Masih saja terjadi rentetan teror bom di Bumi Pertiwi ini dalam durasi waktu yang cukup dekat, Cirebon menjadi tujuan wisata bom para pencinta daging manusia.
Mungkin kambing sudah tidak merangsang liur para penikmat bom, karena mereka sudah berusaha melakukan kombinasi menu apapun terhadap kambing tetap tidak menimbulkan nafsu makannya. Mungkin daging sesama mereka rasa tidak perlu memakai bumbu apapun sudah terasa nikmatnya, apalagi dengan dagingnya sendiri.
Penyuluhan agama yang selama ini rajin disiarkan para pemuka agama, sampai-sampai untuk memanggil para pemuka dibutuhkan suatu manajemen entertainmen khusus dan mungkin dikhawatirkan menjadi konsumsi politis para pemangku kepentingan baik di daerah maupun tingkat pusat, dan adanya tarif kesepakatan demi untuk memberikan penyiraman rohani oleh para pemuka terkenal. Namun apa lacur kata tinggal kata, kata hanya pemanis bibir buat para pendengar dan penceramah. Perbuatan-perbuatan yang merupakan inti dari aplikasi / implementasi kata-kata ternyata hanya sebagai landasan teori belaka.
Pemerintahpun sepertinya hanya memberikan kutukan seperti kata-kata yang dilontarkan para pemuka agama, belum ada tindakan yang kongkrit dalam rangka pengamanan, penertiban dan penegakan hukum. Penduduk sepertinya dipolitisasi agar tetap bingung. Sebutan apa yang pantas buat Indonesia ini?.
Para pelaku bisnispun meragukan investasinya dikarenakan kondisi sosial politik yang tidak menjanjikan, para turispun mulai menjadualkan kembali kunjungan wisatanya ke Indonesia, walaupun sangat menarik namun sangat rentan terhadap keselamatan. Pemerintah dalam hal ini Kementerian yang berurusan dengan kepariwisataan mungkin tidak memikirkan dampak ini, yang ada hanya bagaimana mendayagunakan Anggaran. Jiwa Enterpreneur pemerintah Indonesia tidak seperti negara-negara maju yang mempergunakan anggaran seminimal mungkin, berbeda dengan Indonesia dengan paham Anggaran Habis.
Wahai para Warga Negara Indonesia, kenapa saudara begitu pintarnya mengatakan bahwa pikiran saudara para pemakan manusia lebih benar dari pada manusia yang berseberangan dengan saudara Apakah Tuhan saudara telah berdialog langsung empat mata (menurut pemikiran saya, mata Tuhan hanya 2, apa iya?) dan dapat saudara lihat dengan mata kepala sendiri kehadiranNya?, apakah saudara tidak merasakan bahwa saudara adalah bagian dari permainan antar manusia?.
Orangtua, sudah sedemikian bijaknya mengusahakan saudara untuk hidup dari mulai dilahirkan sampai dengan dapat mandiri / dengan kemampuan sendiri / bantuan sekitar dan sebagai keseimbangan sebagai seorang anak berusaha agar berkesempatan membahagiakan keluarga dan orang tua, namun apa yang diterima oleh orangtua atas perilaku dan akibat yang ditimbulkan dari sifat keakuan anak-anaknya, mereka hanya terdiam membisu dan menyimpan sesuatu yang tidak dapat saudara rasakan dan akan terbawa dalam memori terdepan sepanjang hayatnya yang dengan mudah menjadi pemicu atas perubahan kondisi yang serius.
Demikian Indonesiaku, tempat aku dilahirkan, tiada yang dapat menjadi kebanggaan semua harus ditebus dengan perjuangan yang benar-benar dari kepedulian akan sesama sebagaimana Sila ke 2 Pancasila, Kemanusiaan yang adil dan beradab.
SMP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar