Begitu berartinya Ibu RA. Kartini melalui buku Habis Gelap Terbitlah Terang, adalah sekumpulan surat kepada sahabat di Belanda, sebagai bukti perjuangan kebebasan yang setara (dapat memilih sesuai keinginan kaum wanita) dari belenggu pembatasan ruang gerak kaum wanita atas kebebasan kaum pria yang seluas-luasnya. Kemampuan wanita memiliki potensi yang sama dengan kaum pria bilamana wanita mengadopsi atau mempelajari hal dimaksud dengan sungguh-sungguh.
Zaman kemerdekaan ini, telah banyak kaum wanita yang telah memperoleh kesempatan yang sama, namun kelamin tidak bisa dibohongi, apapun itu caranya, itulah luar biasanya terbentuknya kelamin laki-laki dan perempuan, sepandai apapun wanita memirip-miripkannya, ada saja hal yang tidak mungkin persis sama tanpa bekas demikian pula laki-laki sebaliknya. Pertanyaan menarik bagaimana jika manusia tidak memiliki kelamin? yang pastinya walaupun diraba-raba ya menjadi homo (sejenis), tidak memiliki perbedaan, contoh bila laki-laki mengubah kelaminnya menjadi perempuan, apakah dia menjadi Ibu Kartini juga. Oleh karenanya mereka saling melengkapi, sama seperti anatomi manusia yang saling bekerja sama. Namun kenyataannya selalu saja ada penolakan dari masing-masing gender untuk saling dapat menjadi pemenang, terutama di era modern / tehnologi ini, sehingga terjadi persaingan yang kurang sehat dan tidak dapat menerima kodratnya. Apakah saudara demikian, apakah saya juga demikian? (hanya mementingkan keegoisan gender) semua kembali kepada saling memenuhi dan bersinergi. Contoh masa kini, mengapa para ibu-ibu zaman modern ini lebih suka membelanjakan susu dari dari pada menyapih kepada anaknya sendiri, apakah sapi menjadi ibu kandung dari pada ibu kandung sendiri?. Inilah yang membuat sifat non kemanusiaan muncul tanpa disadari pada generasi berikut, dan kamipun mengalaminya demikian. Semoga ini menjadi perhatian kita bersama, agar kelak kelamin-kelamin tidak menjadi sesifat baik itu laki-laki maupun perempuan, atau mungkin naluri sapi betina lebih mendominasi para keturunan kita tanpa membedakan kelamin. Semoga RA. Kartini masa kini lebih memperjuangkan kepada kodratnya sebagai perempuan. Demikian juga Kartono yang tetap setia pada kelaminnya.
SMP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar