Kasihilah Sesamamu Manusia


  • Kasihan bu, kasihan pak, pengemis memohon simpati para pemberi nasi.
  • Hajar, hajar, pukul, sampai pentungan pun kalau bisa berteriak, hei sudah, sudah yang dipukul tidak teriak lagi.
  • Seorang anak lahir, seluruh keturunan berbahagia, kehidupan baru muncul, tanda hari memulai pagi.
  • pulau berserakan, pulau berpenghuni, pulau bersosialisasi.
  • Anak-anak bermain, mereka tidak tahu mereka berbeda, asik ketawa-ketiwi.
  • Ada salah seorang anak menangis, sesamanya menghiburi.
  • Anak-anak tidak berfikir melapis-lapisi.
  • Tumbuh dewasa dihantui. Masa lalu menjadi bukti. Anak-anak terkena sodomi.
  • Pelaku sex menyimpang meniduri karena bernafsukan birahi.
  • Agama menjadi komoditi, ternyata outputnya macam ini.
  • Agama menjadi media transportasi ereksi membabi-babi.
  • Pelaksana negara mengikuti trendi, asik tipu sana sini.
  • Tentara seperti Tiger ompong di Negeri Bidadari, padahal memiliki cita-cita perdamaian abadi. Polisi macam polisi tidur tak enggan berdiri.
  • Presiden prihatin memberi komentar sebatas bibir merah pucat pasi.
  • Wakil Rakyat semakin hari berganti kursi menjadi selebriti, sibuk buat opera sabun membungkus jual beli suara hasil konspirasi.
  • TPS dijadikan latihan meramu transaksi, harga diri, rupiah mengisi kantong pengendali.
  • Warga merumpi melihat tetangga 3 tahun berdomisili, tidak lapor diri Semua saling mencurigai, akhirnya menjadi tragedi.
  • 3 manusia korban bambu dan sapu lidi. Sampai kapan pertiwi mengalami ini.
  • dari warga, pengurus warga, para lurah, camat/camatina, kodyamat/wati, bupati/papati, gubernur/gubernuri, menteri/mentara, presiden/prosotan, wakil rakyat/ketua rakyat,  polwan/polisi, KPK dan semua manusia di pertiwi mementingkan diri sendiri.
  • Partai politik diikuti untuk menjadi pencuri. Sibuk mencari pengikut dengan memberi simpati menebar janji seribu puisi, sedikit aksi untuk menjadi pengikat tanda mahar  jadi, nikah model politik cerai instanpun jadi.
  • Rakyat dibiarkan tidak perlu mengerti. Karena kalau mengerti akan merugi. Kembangkan nilai-nilai pahala/pahalawati. Untuk membius rakyat yang haus harga diri. Rakyat didepan mata ditipu berkali-kali. Tak apa-apa itu dimaklumi lagi dan lagi. Akhirnya tragedi berulang-ulang kali tak kompromi. Kocar kacir rakyat memaksa menyelesaikan sendiri.
  • Diatas sana sibuk pegang blakberri, sms, chatingan, komentar mencuci diri. Bencana Alam silih berganti dibilang kesalahan alami.
  • Gergaji jumbo, alat berat beko,  memotong, mencungkil akar penghisap air kehidupan bergenerasi, akhirnya mengkonsumsi air putih kimiawi.
  • Mie Instan menjadi konsumsi, bahan pokok beras tak perlu ditanami, petani mencari nasi bukan dari hasil padi, menarik beca, ojek, jual cendol, calo di perantauan untuk beli mi.
  • Alam Indonesia yang berwarna-warni penuh dengan kekayaan hewani dan nabati, tidak terberdaya oleh tatanan kehidupan negara demokresi.
  • Pupuk diolah oleh peneliti rupanya menjadi rugi sana-sini, dahulu kotoran sapi, membuat padi tinggi-tinggi, kemana kotoran sapi sekarang ini?.
  • Indonesia disetup menjadi negara konsumeris produktif, ketergatungan permanen tidak terobati, agar para pengguna anggaran negara menjadikan uang sebagai konpensasi candu negara pertiwi ini, bila tidak mencukupi, para perawan dan katanya Pahlawan (dengan tanda jasa) Devisa, siap diekpor, menandingi impor beras, gula, cabe, dan minyak bumi.
  • Manusia diciptakan hanya 2 jenis dan sisi. Akibat pemikiran manusia liar tak terkendali. jenis manusia menjadi lebih menjadi jadi, lebih bayak dari 2 komposisi.
  • Keganjilan keganjilan manusia semakin membutakan hati, karena kitab suci sudah berubah fungsi menjadi ring pertandingan menjaga gengsi.
  • Padahal kitab suci adalah mengatur kehidupan yang mandiri dan diteladani.
  • Kasih manusia terhadap sesama, dimana bisa ditemui, karena pemandu hidup, kitab suci sudah menjadi pajangan dan korban menjual harga diri ayat-ayat suci. Hingga manusia melupakan batasan, keadilan dan menerobos memangsa kehidupan sesama manusia yang beraneka sudut dan kondisi.
1297278921964815118
  • Kasihan bu, kasihan pak, pengemis memohon simpati para pemberi nasi.
  • Hajar, hajar, pukul, sampai pentungan pun kalau bisa berteriak, hei sudah, sudah yang dipukul tidak teriak lagi.


Kasihilah sesamamu manusia, seperti engkau mengasihi diri sendiri
SMP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar