Terlena Valentine

Hijau Rumput berganti Hitam Malam, Merah Putih setengah tiang;
manusia di pentung manusia sampai tinggal nama dan sarana hancur tak berharga, seperti Cikesik, Banten & Temanggung, Jawa Tengah bercerita;
Kota asap, knalpot bersaingan mengelegar, pengemudi berteriak kegirangan;
Hijau daun, berganti coklat. Hujan tidak lagi teratur, seperti dahulu kehidupan manusia yang teratur;
Rakyat keroncongan, tidak tentu makan. Olah pikiran, banting tulang, rupiah kurang tak termakan;
Pojok gang berisi para pengangguran, mampir numpang di warkop pesan kopi, duduk berjam-jam;
Posko tempat kumpul dan celoteh pemuda, tegak miras buat sarapan;
Ketrampilan para pemuda lenyap karena tidak diperdulikan;
Sekolah tinggi untuk cari gengsi dan jabatan, sertifikat bodong menjadi rebutan;
Tambah modal,  masuk sekolah terkenal lewat pintu belakang;
Lulus sekolah cari sensasi gaji besar, karena merasa dibekali kemampuan intelektual;
Bicara sebatas melakukan deal keuntungan;
Bakteri Enterobacter sakazakii menjadi sahabat pemerintah, dan musuh ibu rumah tangga;
Pemuda mencari cinta bersandiwara bak cerita romeo dan juliet, komitmen, ice cream dan coklat menjadi primadona. Rupiah, inventaris, dan jabatan menjadi prasyarat cinta, tidak tahunya warisan orang tua;
Pemudi menerima, terlena membayar dimuka, syukur-syukur sertifikat langsung diterima;
Tibalah waktunya bersama dengan mengikat janji di depan saksi dan penghulu dunia, (berprasangka ini jodoh yang telah Tuhan perkenankan buat saya dan dia) kartu remi dibuka semua plus joker dua;
Malam pertama tidak lagi seperti orang jaman bahola, duren tak perlu dibuka karena sudah terbelah dua;
Teriakan muncul sebagai ketidak puasan ranjang cinta, joker terbuka, plak …;
Mulailah petasan disundut, sebagai undangan tetangga keluar rumah;
Hari-demi hari petasan dibakar, mulai dari kembang api, cabe rawit, banting, sampai dentuman yang memecahkan gendang telinga;
Walaupun demikian rutinitas ranjang berlangsung seperti biasa, tanpa sadar vagina menampung sperma kehidupan alam nyata;
Terlambat, calon ibu berkata, sang calon ayah menjawab seperti tak percaya, petasan berbunyi lagi;
Ada perubahan yang nyata, kemauan ibu berubah-ubah, minta rekreasi ke Rusia? melihat usia perut yang beranjak tua;
Pertanyaan pertama, dimana puser ibu hamil?;
Tibalah hari yang diduga, sang calon ayah merasa hal yang biasa tak perlu ada mendampinginya;
Sorak gempita mengiringi tangis pertama perkenalan dunia; Segenap keluarga mengucap syukur untuk kehadiran dan kesehatan sang Ibu.
Sang buah hati ibu tumbuh dan kembang, sementara petasan berbunyi berkala mengisi waktu berjalan;
Mulailah generasi menerima input dan bunyi petasan mengisi tidur siang dan malamnya;
Dalam hati bimbang dan berontak untuk membuang petasan;
Catatan Sipil memanggil kedua saksi atas laporan pelapor masalah;
Keputusan dibuat dalam berita acara, sertifikat antagonis keluar diterima masing-masing korban masalah;
Masing-masing lupa amanat kesatuan mereka, menghirup polusi kebebasan serasa seperti kembali muda;
Membangun kembali komunitas muda, berpetualang memenuhi selera, masing-masing mengumbar kelamin cinta, berharap ada yang terbaik mereka beri dan menerima;
Sementara sang generasi hasil olah gado-gado di ulekan ranjang asmara;
Memelihara pembalasan yang menunggu saatnya tiba;
Pertanyaan kedua, kenapa pada 100 tahun yang lalu kakek dan nenek kita bahagia?.
Pertanyaan ketiga, apa yang saudara cari untuk keluarga dan kehidupan sosial saudara?.
10 jam menjelang Valentine 14 Februari 2011

SMP

  • Valentina, akan semakin hambar…
    bagkan memaknainya pun tak bisa lg :sad
  • Inilah realitas kehidupan bumi, hambar (kepalsuan) merupakan tuntutan kebutuhan masa kini. Masih ada para valentina-valentina yang berbahagia tanpa kehambaran, karena itulah waktu menjadikan pengalaman. Salam brotha, SMP
  • karena jaman sekarang manusia terlalu banyak keinginan sehingga sulit bahagia dan perlu mencarinya
  • hihihi, sependapat, dan adakalanya kata bahagia punya ukuran fisik.
  • Padahal hal itu justru menjauhkan diri dari makna bahagia itu sendiri
  • seperti pendapat bang kate, makna bahagia yang jelas.
    Kenapa dikatakan bahagia punya ukuran fisik, karena pola pikir manusia semakin maju, semakin mudah memberikan dan mengatakan hal-hal yang seharusnya ditimbang dengan seksama, sama seperti waktu mengikat perjanjian untuk membuka kehidupan baru. Sengaja disampaikan demikian agar bahagia adalah bukan ukuran fisik semata, namun perjuangan secara berkala dalam membina kehidupan sosial di keluarga dan masyarakat. Terimakasih untuk lebih jauh SMP
  • Teriakan muncul sebagai ketidak puasan ranjang cinta, joker terbuka, plak …;
    hehehe
  • bukan maksud menyalahkan jender mas, ini hanya ilustrasi masa kini, hanya masing-masing kedua belah pihak kembali lagi mengingat apa yang sudah menjadi keputusan bersama (memang bukan proses yang sederhana, namun membutuhkan kebesarkan jiwa) utk membuka suatu lembaran baru, pasangan memiliki kekurangan, itu kekurangan bersama dan juga kelebihan bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar