Disajikan dalam upaya pelengkap cerita sdr. Alek Laksana
Pernah saudara dengar banyak ungkapan para pasangan hidup mengatakan bahwa mereka berjodoh, Tuhan telah menunjukan jodoh yang pantas buat saya, Dialah jodoh yang ditunjukan Tuhan untuk saya, Tuhan akan menunjukkan jodoh yang cocok untuk saya, Sepertinya sikap dan perilakunya sejalan dengan saya-inilah jodoh yang telah ditunjukkanNya. Sudah lama saya cari-rupanya inilah jodoh yang dimaksud olehNya.
Disisi lain, rumah tangga hancur berantakan dengan alasan, dia ternyata bukan jodoh saya, saya terburu-buru mengambil keputusan sehingga begini akhirnya, ternyata kelakuannya tidak mencerminkan dirinya yang dulu, dia sudah berubah, Suami saya ternyata mencintai wanita lain, saya bercerai karena dia tidak dapat memberi keturunan, suami saya ternyata seorang gay, istri saya tergiur dengan rasa baru, ternyata anak itu hasil kebohongan istri saya, suami saya tidak dapat memberikan nafkah bathin, Suami saya memiliki penyakit yang serius, Istri saya merasa tidak terpuaskan, dst.
Disudut lain, banyak yang tidak menikah karena, jodohku belum datang, tenang saja Tuhan pasti akan menunjukkan, kok Tuhan belum juga mengabulkan permintaanku, sudah banyak yang kutemui namun Tuhan belum berkenan, Mungkin itu bukan jodoh yang pantas untukku. Ah buat apa menikah, semua sudah tersedia, instan dan tidak beresiko, sibuk dengan kesibukannya akhirnya lupa makan martabak, menekuni profesi pelayanan keagamaan dengan menjadi pastor, malu untuk menikah karena umur, senang menikmati hiburan malam, adanya kegiatan sex after lunch, tersedianya kost yang memberikan layanan plus-plus, dst.
Jika diperhatikan alasan-alasan di atas, mengapa manusia Indonesia begitu mudahnya memberikan alasan yang mengatasnamakan campur tangan Tuhan?, bukankah pikiran sendiri yang meramu ramuan alasan itu?, bukankah itu campur tangan keakuan atas nama pikiran?, Kapan pernah Tuhan berbisik langsung kepada saudara untuk menjembatani urusan jodoh /cerai/tidak saudara? Menurut aturan perkawinan, bukankah pernikahan dilakukan atas dasar keinginan yang sama utk berkeluarga, dan itu keinginan siapa? untuk pengesahan di lingkup agama bukankah pernikahan adalah ikatan yang dilaporkan kepada sang Pencipta, dengan janji-janji yang kita setujui?.
Kenapa dikatakan jodoh ditangan Iblis, kenapa tidak ditangan Tuhan. Bahwa berpasangan menurut kitab menurut pendapat penulis, hanya dipersilahkan oleh Tuhan pada zaman Adam dan Hawa, sebagai bahan ajar manusia bahwa mereka berbeda satu sama lain, berkelamin beda, berperilaku unik pada masing-masing kelamin, memiliki sarana sex yang berbeda. Berhubung Iblis diberikan kuasa untuk mengelola dunia dan isinya, dan manusia diberikan akal dan budi pekerti (disini) sebagai payung manusia dalam menghadapi pengelolaan dunia yang akan dibawa kemana?, ke jurang atau kejalan yang nyaman, maka Tuhan tidak akan campur tangan terhadap perjodohan manusia, nanti apa kata Iblis, kok Tuhan berbuat dosa?, Dia bohongi Iblis dengan menipu bahwa pilihanNya adalah yang tepat, ternyata manusianya saja yang makar. Makanya manusia menganggap Tuhan bodoh sewaktu-waktu padahal itu hasil analisa pikiran manusia saja dibantu dengan para Iblis yang selalu menggoda dan Iblis senang menunjukkan jodoh kepada manusia dengan berbagai alasannya, dan Iblispun akan gigit jari bila pilihannya akur, damai dan tentram sepanjang hidup beranak cucu dan terciptanya suatu kehidupan yang baik, itulah pilihan Iblis yang akhirnya dibenci Iblis pula bila makar.
SMP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar