
- menerima gelar kehormatan tertinggi dari Batak Angkola “Patuan Sori Mulya Raja/Paduka yang dihormati dan diteladani (SBY), Naduma Harungguan Hasayangan/Penyatu dan Penyayang Sesama” (Ani).
- Menyandang Gelar Marga Siregar (SBY) dan boru Pohan (Ani)
- Menjadi bagian dari Enam Puak Suku Batak
- Pemberian tongkat “Tunggal Panaluan”
Adat/tradisi Batak “Dalihan Na Tolu” menyimpan misteri kehidupan secara horisontal dan tersirat akan kepatuhan para Leluhur kepada sang Pencipta, sehingga para leluhur ditunjukan kebijaksanaan dalam menyusun tatanan budaya/adat dengan adil tanpa memetik keuntungan atau kerugian dari seluruh pihak terkait selaku pelaksana adat/petuah adat. Ini dapat disingkronisasikan dengan hal sederhana yang ada pada Kitab Suci “Melayani-Keseimbangan”, contoh kenapa setiap anak (laki-laki) dari orang tua Marga A, ibu br (Marga) B disuku Batak diperbolehkan mempersunting boru (anak perempuan) dari ito (pihak keluarga Ibu (marga) B-Abang/Adik | Laki-laki/Paman) tetapi tidak sebaliknya boru (anak perempuan) dari orang tua Marga A, ibu (Marga) B, tidak boleh mempersunting anak (laki-laki) dari ito (pihak keluarga Ibu (marga) B-Abang/Adik | Laki-laki/Paman). Inilah pelayanan yang tidak meminta pembalasan timbal balik/silang, tapi akan digenapi dengan sirkulasi, hukum alam siapa yang melayani, Tuhan akan mempertimbangkannya dan memberi keadilan. Itu dapat terlihat nyata bahwa keluarga Batak akan lengkap/seimbang apabila ada unsur anak (keturunan laki-laki-sebagai pembawa tongkat penerus) dan boru (keturunan perempuan-sebagai mitra membangun penerus).
Paduka yang terhormat SBY beserta Ibu,
ikon 1 adalah beban moral yang tidak dapat dibayar dengan moril.
Ikon 2 beban moral bagi seluruh keturunan Siregar dan Pohan / dan khususnya SBY beserta Ibu di seluruh dunia dalam mempertahankan keutuhan kebhinnekatunggalikaan terhadap segala prilaku apalagi yang terekam saat ini.
Ikon 3 Siapakah kalian yang mengatasnamakan puak suku Batak, apakah kalian telah bertindak dan menetapkan atas dasar keadilan, kalian adalah Oknum Tolol yang mempergunakan kejadian/peristiwa ini sebagai momen kesempatan/keuntungan pribadi, mumpung dipercayakan.
Ikon 4 Tongkat Tunggal Panaluan, adalah tongkat permohonan para lelulur/doa para lelulur kepada sang Pencipta, yang tidak mengambil keuntungan dan kerugian di atas mandat yang telah diberikan masyarakat Batak kepadanya/tugas pengemban amanah sang Pencipta (leluhur berusaha hidup menurut perintahNya).
Silahkan kalian bantah hai para penyumput keadilan. Hukum Dunia tidak sama dengan Hukum sang Pencipta, Alam adalah Keadilan | Keseimbangan yang sang Pencipta ciptakan , apabila manusia tidak berlaku adil maka alam akan berlaku demikian. lihatlah dan rasakan bagaimana dunia alam mulai berlaku disegenap penjuru.
Demikian bahwa hal ini “bukan seremoni Adat Batak”, tetapi “keputusan Oknum Tolol atas nama Adat Batak”, dan ingat bahwa kami semua juga akan merasakan akibat dimasa depan atas apa yang kalian buat.
Kutipan Pedoman Kitab:
Ulangan 16:19-20 Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. Semata-mata keadilan, itulah yang harus kaukejar, supaya engkau hidup dan memiliki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu
SMP
“mengakui kalau si A yang kebetulan orang penting menjadi milik adat tertentu”
kalau saya menjadi presiden kemduain diberikan gelar, masak menolak? kalau menolak? entar dibuilang tidak sensitip sama suatu produk adat tertentu, kalau diterima menjadi dilema…..
Yang mengobral adat adalah oknum, dan adat bukanlah kesakralan, adat bisa disejajarkan dengan Undang-undang Pemerintahan, karena adat merupakan produk kesukuan dan sama-sama produk manusia. Contoh penyalahgunaan adat seperti peraturan pemerintah salah satunya tentang pekerja ousourcing, apakah ini benar-benar suatu keadilan?, apakah aturan ini dibuat karena ada kepentingan penguasa, coba telaah produk undang-undang di Indonesia, apakah itu sudah mewakili keadilan?, dinegara ini, apa saja bisa diatur, itulah bedanya leluhur dahulu, mereka berlaku adil, maka sang pencipta memelihara kehidupan mereka.
Di Adat batak tidak ada gelar, hanya silsilah, semua keluarga batak disebut Raja, itulah keadilan. dan ini dinamis sesuai dimana mereka duduk. Siapa yang katakan lazim, di dalam Adat batak, hal-hal yang menjadi adat ada pada saat lahir, kawin, mati. itu yang umum, pemberian gelar itu kebijakan siapa?, kecuali tidak ada terkecuali. Dan kalau tidak memahami tak usah mencoba-coba. Walaupun seorang ter sekalipun. Ter sekalipun kalau sudah di Adat bisa menjadi pelayan dan bisa menjadi tuan rumah sesuai duduknya. Demikian. SMP
Anda masih muda usia, cenderung melihat berbagai fenomena Nusantara sebatas pandangan “physical eyes” atau mata-kepala belaka, dan masih emosional. Ibarat memperoleh DURIAN runtuh, terkesan oleh kulitnya yang buruk, atau ngeri menyaksikan durinya yang menyeringai tajam. Orang Ambon bilang: “Jangan pilih kulit durian, so baduri!”
Anda sedang beranjak menjadi dewasa, saya lihat sudah cukup arif menggunakan “mind eye” (mata akal). Sudah punya kiat membelah kulit durian, walaupun masih terkesan keburu nafsu. Orang Jawa bilang: “Alon-alon asal kelakon!”
Anda sudah bisa menikmati daging buahnya, tapi jangan berlebihan agar tidak mabuk kepayang. Inipun DILEMATIS, orang Barat bilang: “The taste like HEAVEN, but the smell like HELL”.
Anda berpotensi prima, maka belajarlah memanfaatkan “spiritual eye” (mata-bathin) supaya bijaksana dan bisa membaca “future history” seperti Nabi Yusuf a.s. Jangan ikuti mereka yang bermental “bo-tol”, mencampakkan biji durian di sembarang tempat. Padahal substansi buah durian yang sebenarnya adalah bijinya, karena banyak kandungan gizinya dan sebagai benih bisa untuk menggandakan pohonnya. Janganlah mentok sebatas kulitnya saja, tapi selami sedalam bijinya. Jangan hanya terkesima oleh “the accidence” saja, namun teroponglah sejauh “the essence” daripadanya.
Banyak orang terkecoh karena menyaksikan “performace” lahiriah tradisi Batak, termasuk saya sendiri sebelum mengkaji “Kebangkitan Agama-agama dan Spiritualisme”. Sekarang saya menjadi pengagumnya, karena sifatnya yang “paradoxal” - simple and sophisticated as well. “Mendem jero, mikul duwur” inilah pedoman saya mengkaji falsafah Dalihan Na Tolu dan tradisi Batak. Bilamana saya menukik ke bawah dipertemukan dengan Ibadah HAJJI warisan Nabi Ibrahim (embryo semua agama), manakala saya melambung ke atas menyaksikan hubungannya dengan PHILOSOPHIA PERENNIS (Unify of Religion)
HARIMAU adalah musuh orang Batak ketika pergi ke hutan untuk memungut durian runtuh atau menyadap getah kemenyan. “Competitive advantage”, supaya bisa unggul melawan “harimau Sumetera” yang besar itu andalan mereka adalah jurus “Silat BABIAT”. Dalam menghadapi “cultural crisis” yang semakin gawat, “local wisdom” inilah yang dimainkan oleh para Ketua Adat Batak untuk mengingatkan Presiden SBY, betapa pentingnya budaya sebagai pendukung utama eksistensi suatu bangsa. Momentumnya tepat, karena filsafat Dalihan Na Tolu dan tradisi Batak merupakan pondasi Budaya Nusantara, sehingga pemahaman dan penghayatan terhadapnya akan membuka wawasan pandang Presiden SBY tentang peran budaya, baik untuk kepentingan nasional maupun internasional.
Pemerintah Pusat R.I. sedang gigih untuk meruntuhkan “Benteng Budaya Nusantara” yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta, sarana untuk Persatuan Indonesia, dan prasarana untuk memenangkan “Cultural Warfare” di masa datang. Prakarsa kaum arif-bijaksana Tano Batak perlu diapresiasi dengan “waskita”, disadari atau tidak, berdasarkan “insight” atau “ratio”, mereka yang mata-bathinnya berfungsi bisa melihat hikmahnya yang luar biasa.
“Ibarat memperoleh durian runtuh” dan sekaligus “Ibarat makan buah Simalakama”. Terserah orang, ada yang seperti orang buta sekedar mengelus-elus dan mencium kulitnya saja, lalu melempar kritik tajam yang membabi buta. Ada yang menikmati daging buahnya samapai teler. Sebaiknya pilih dan pilah-pilah bijinya, supaya jadi sayur, jadi dodol, atau jadi benih untuk ditanam kembali. Semua yang hadir di dunia berpasangan, manusia diuji dengan keburukan dan kebaikan, dan Perhelatan Adat yang baru saja disemarakkan itupun tidak terkecuali. Yang saya utamakan esensinya, bukan asidensinya.
“CULTURAL CRISIS” Indonesia sedang menjelang “titik nadir”, sekarang momentum untuk mengambil sikap, bangkit atau bangkrut. Presiden SBY dan segenap bangsa Indonesia sedang diuji untuk merenovasi “Rumah Gadang Nusantara”, membangun pondasi bersumber Dalihan Na Tolu (Tapanuli) dan membuat atap bersumber warisan Wali Songo (DI Yogyakarta). MISSION SACRAE - Bangsa Indonesia, yang berfalsafah Pancasila sebagai pedoman berbangsa dan bernegara, telah dipilih untuk megemban amanah merintis Kebangkian Peradaban Milennium, yang paralel dengan “Jesus Christ Resurrection”
Tanggapan saya panjang lebar, karena sesungguhnya kondidi kritis ini merupakan peluang dan tantangan bagi Anda dan rekan-rekan generasi muda “Na Poso Bulung” (surviving generation), yang harus siap juang menhadapi masa depan yang semakin complex, dynamic, competitive. Janganlah berharap banyak dari generasi kami yang sudah uzur (the rotting generation).
Mauliate godang,
Ompung Doli.
Menurut apa yang dibaca dari uraian bapak, bahwa tulisan ini terlalu dini untuk memberikan penilaian terhadap kejadian dimaksud, dan perlu adanya tinjauan/kajian/telaah, bukan hanya pada permasalahan yang aktual namun pada tujuan yang diharapkan tersirat/kasat mata, yaitu dengan mempergunakan seluruh potensi baik itu mind eye and spiritual eye. Secara khusus diterima dan ini adalah base/dasar memulai segala sesuatu.
Spiritual Eye adalah pelajaran yang tidak akan pernah ada habisnya untuk digali dan direnungi, dan memang di dalam kepribadian manusia sifat itu selalu berpasangan, kesabaran dan nafsu, benar dan salah, jahat dan baik dan seterusnya.
Penyataan pada tema tulisan, diperuntukan bagi oknum bukan pada aturan/adatnya. Walaupun oknum tersebut dengan tujuan terpositifnya adalah memberi peringatan dini untuk mengikat moral penerima tanggungjawab/kehormatan (Hati-hati karena telah termaterai oleh tradisi/adat [sanksi adat tidak terlihat namun tersirat], dan lakukan yang terbaik untuk masyarakat, terhitung mulai diterimanya tanggungjawab ini).
Walaupun latar belakang adat kami para penerus (khususnya Batak yang sudah lahir dan besar di tanah perantauan) mulai tergerus oleh kompleksitas kehidupan yang bervariatif dan sangat cepat, sehingga nilai-nilai yang tersirat di dalam adat belum dapat terakomodir dengan baik di dalam kehidupan saat ini. Namun kami sangatlah bersyukur, ternyata darah leluhur masih mengingatkan kami akan utamanya adat di dalam menjalani kedinamisan kehidupan baik masa lalu maupun terkini. Agar harapan kehidupan yang seimbang dapat berlangsung bagi kami dan penerus di masa depan. Adat ini akan terpelihara dengan baik apabila, seluruh komponen, orang tua, anak, lingkungan, pemangku adat, tokoh masyarakat, pemerintah setempat, wakil masyarakat daerah, ahli hukum adat mampu menyampaikan pesan ini secara lugas sesuai masa (perkembangan terupdate).
Oknum menurut bapak telah berbuat seoptimal mungkin, sebagai peringatan dan tulisan ini juga sebagai peringatan, dan bapak juga memperingatkan penulis. Inilah sirkulasi otomatis yang sangat baik demi kehidupan yang lebih baik dan lebih hijau sesuai keadaan masa lalu, air bersih, hutan memancarkan keindahan, mahluk hidup senang di alamnya. (harapan tak berharap)
Semoga apa yang menjadi harapan rakyat dapat terestimasi dan terselesaikan tahap demi tahap, bukan hanya menunggu dan menunggu kapan akan mampir/lewat.
Politik di Indonesia, adalah politik kesempatan, hingga masyarakat yang dulu buta sekarang telah sembuh.
Demikian bapak, semoga kami generasi muda dapat meneladani generasi pendahulunya yang telah melihat Indonesia dengan spiritual eye, sehingga kebijakan mind eye muncul sebagai akibat dari spiritual eye dimaksud.
Mohon maaf sebelumnya karena pengalaman kami masih terlalu muda untuk masa yang telah dijalani bapak dan para generasi bapak, dan doa kami, agar sang Pencipta memberikan petunjukNya kepada kita semua. Amin
Salam Merah Putih
Saya terharu membaca ungkapan Anda, maka saya berharap Anda dan rekan-rekan generasi muda “Naposo Bulung” arif-bijaksana menyikapi berbagai fenomena yang dipagelarkan di Bumi Pertiwi. Keseluruhan “mata” saya menyaksikan bahwa Kebangkitan Perdaban Milenium, yang berskala global dan berwawasan universal, telah terprogram akan dirintis dari Tapanuli. Aneh bukan? Tidak masuk akal bagi mereka yang berpandangan sempit dan bersikap “rigid”, namun ini akan masuk akal mereka yang berpandangan luas dan bersikap luwes. Sudah barang tentu saya berharap Andalah yang akan menguak tabir misteri ini.
Mauliate godang,
The Sunset Generation.
Ayah saya penentu hukum adat dari salah satu suku di Flores, masih berbicara bahasa daerah yang paling halus hanya sangat disayangkan putra dan putrinya belum diberi kesempatan untuk mengenal adat ayah secara sempurna, kalaupun ya hanya kakak laki-laki sulung yang mempelajari hukumnya tetapi untuk bahasa halus hm … saya pesimis … saya pribadi tertarik tetapi bagaimana ya … tinggal berjauhan
Membaca ulasan bang Ucoxs diatas saya sangat mengerti sekali perasaan abang apabila yang diberi gelar tidak menjalankan tugas dan kewajibannya.
Tradisi memberi gelar seperti diatas hampir sama seperti pemberian gelar “Sir” oleh Ratu Inggris kepada warganya yang berjasa … maksud saya tidak 100% sama tetapi kira2 sedikit mendekat
Berharap Pak SBY & Ibu mengerti arti dari semuanya itu, kalau tidak ya tugasnya bang Ucoxs untuk mencabutnya kembali hahaha
Salam hangat
Singkirkan pesimis itu Indri, tradisi/adat itu adalah darah yang mengalir pada keturunan/terbawa genetika, lebih cepat mengadopsi di bandingkan di luar keturunan, kalaupun ada, kita patut bersyukur karena ada non keturunan yang mau mendalaminya. Serupa spt saya yang lahir di perantauan, awalnya seperti Indri, namun secara bertahap dan terus menerus mencoba mempelajari. Demikian semoga bermanfaat hihihi …
Salam Merah Putih untuk Lahirnya Nommensen.
“Self Destruction” - orang Jawa yang dianggap “saudara tua” semestinya jadi panutan sebagai pelestari dan pengawal budaya nasional, namun sebaliknya kini sedang merongrong budayanya sendiri yang adhiluhung. Padahal ini bukan hanya milik bangsa Indonesia saja, namun bersama-sama budaya tradisi Nusantara lainnya aset internasional yang akan menjadi pondasi Peradaban Milenium. Mengingat urgensinya, maka orang Bataklah yang terpilih mengemban amanah untuk menyadarkan Presiden SBY dalam menangani “cultural crisis” negeri ini. Bapak T.B. Silalahi didampingi putri Jawa, maka beliau tahu bahwa Presiden SBY mesti “dipangku” dulu, baru kemudian “diulosi”. Ini filsafat tinggi, integralisme Dalihan Na Tolu dan Warisan Wali Songo, yang baru terpahami kedalaman dan keluasan maknanya apabila dibaca sekaligus dengan mata kepala, mata akal, dan mata bathin! Silahkan bertanya kepada orang tua yang arif-bijaksana.
“Genius Loci” (Kearifan Lokal). “The Show must go on!” Walau banyak kritik acara terus berjalan, dan berlangsung dengan semarak dan tertib. Bagi mereka yang jeli akan terkesima oleh kearifan tradisi Batak, ungkapan orang Jawa: “Andap asor, ning luhur wekasane!” (awalnya di bawah, tapi akhirnya di atas). Presiden SBY dihormati dengan aneka perangkat adat, setelah itu para Ketua Adat Batak yang “mangulosi” (status Mentor), Presiden SBY yang “diulosi” (status Protege). “Opo ora hebat!” kata si Pujakesuma (Putera Jawa Kelahiran Sumatera).
Mauliate godang,
Ompung Doli.