Mungkin tidak akan pernah bertandang kesana jika salah seorang anggota Facebook penulis tidak memposting berita terkait Menteri Komunikasi dan Informasi yang mulia Bpk. Tifatul Sembiring. Kebetulan tema ini menjadi diskusi kami saat itu. Atas desakannya penulis segera meluncur menuju kompasiana.com dan membaca puisi ibu Linda berikut menanggapinya “Tul.. Tul… Kenapa Sih Hanya Soal Salaman Harus Ngibul ?“, sambil penulis menjelajah isi/postingan para kompasioner pada jendela Kompasiana.
Demikianlah awal perselingkuhan penulis terhadap kompasiana, yang akhirnya mengelitik naluri untuk membangunkan voltase guna mengurangi ke’horny’an pikiran dan merelaxasikan nurani penulis. Maka di tanggal 11 Nopember 2010 penulis diberikan kesempatan sebagai member Kompasiana dengan nomor registrasi anggota yang ke 100 juta. Hihihi.
Sebagai tanggung jawab newbie maka di ’soft lauching’lah “Indonesia menuju Golput“, kenapa ini menjadi perhatian? Karena tema ini telah menyentuh sisi kewanitaan (kelembutan) penulis sebagai rasa tanggung jawab selaku WNI untuk mendonasikan setitik pemahaman akan betapa berharga dan mendesaknya hal ini menjadi Issu Nasional.
Muncullah donasi lain diantaranya:
- Apa yang Harus Dijawab?
- Tingkatkan Ekspor Pembantu dan Impor Beras
- Keprihatinan Terhadap Puput Slalu Tersenyum
- Gayus, SiKumis, dan Om RI.1
- Sistem Informasi Kependudukan
- Mampukah Saudara menanggapi?
- Indonesia, Kambing, bukan Semut
- Salah Apa, Olah Raga Indonesia
- Nilai Tukar Emas Suara Rakyat di TPS
- Agama?
- Buang Kewarganegaraanmu
- Bersyukur, Kenapa Lupa?
- Kompasiana Diperkosa
- Bilik-Iman
Karena baru saja belajar menulis, penulis di kejar deadline sehingga membabi buta untuk mengotori lapak kompasiana, setiap penulis berhadapan dengan LCD/PC, langsung menuju tab Kirim Tulisan, selalu tidak cukup waktu di jendela ini, berpikir, diam, menulis dst …, penulis lupa akan principal/pemilik rumah untuk mengamati dan membaca kreatifitas para kompasioner setiap 1-10 menit menuangkan isi kepala dan nuraninya disini. Hanya berusaha sekali-kali saja menengok salah satu postingan yang mengelitik kemaluan kepercayaan penulis yakni pada tema Agama, apalagi temanya provokatif karena ada salah satu kompasioner yang memakai jubah setan kalau lagi posting, namun bila sedang rapat organisasi beliau menanggalkan kesetanannya.
Inilah sisi terburuk dari ego penulis yang hanya memperhatikan hasil donasi tulisannya dan menengok postingan yang sesuai dengan seleranya, Berbekal dari waktu yang dijalani hingga tema “Kenthiran” terbit, penulis berusaha mengurangi kebiasaan buruk dimaksud dengan membaca dan mempelajari keluarbiasaan tulisan para kompasioner Kompasiana.
Ternyata setelah ditinjau, Rumah Sehat Kompasiana terdiri atas 2 Komunitas yaitu:
- Kenthir
- Non Kenthir
Yang cukup menarik, komunitas yaitu pada komunitas ke 2, komunitas inilah yang menurut penulis perlu suatu terapy kejut. Kenapa? Karena setelah diteliti, masih berorientasi pada penyelesaian Skripsi/Tesis, didasari atas referensi petunjuk baku yaitu sistematika penulisan dengan memperhatikan batasan masalah atau ruang lingkup penulisan, apalagi menyangkut tema agama.
Berbeda dengan komunitas kenthir, dimasinisi oleh seorang Kopral Veteran bertugas dalam menanggungjawabi gerbong-gerbong yang sesak dengan penumpang beraneka warna namun semua penumpangnya memiliki jabatan setingkat Jenderal, yang cukup unik menurut penulis dari komunitas ini tulisannya selalu mengandung variabel inspiratif dan menembus cakrawala seperti pelangi mewarnai jagat dan tidak berusaha untuk lulus dengan mencoba memproduksi skripsi/tesis demi gelar intelektual sesaat. Sehingga penulis memiliki kecurigaan yang sangat besar bahwasannya komunitas ini tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Hihihi, jangankan gelar, seragam saja tidak punya.
Berpedoman kepada para penghuni yang menetap dan memiliki sertifikat hak guna lapak pada Rumah Sehat Kompasiana penulis mengucapkan:
“Tararengkyu kepada seluruh komunitas yang berlapak di Rumah Sehat Kompasiana karena telah memberikan pelajaran pertama agar penulis rajin absen walaupun adakalanya terlambat di Rumah ini“
Bila ada komunitas (Non Kenthir atau Kenthir) yang tertarik untuk merekrut penulis untuk menjadi anggota tetap/cadangan/penghibur, dengan rasa hormat serta kerendahan hati penulis akan menerima undangannya.
Catatan: Perlu para komunitas ketahui, bahwa penulis tidak pernah mengenyam bangku sekolah apalagi ijasah intelektual, mohon maaf apabila komunitas mempersyaratkan yang lebih dari itu, kalaupun ada pengecualian hihihi, kita bisa negosiasikan hihihi. Berandai-andai Menembus Cakrawala Pemikiran dan Nurani, dengan segala keterbatasan, mungkinkah?.
SMP
Kenthir yang membanggakan
Dengan motto: Sekali Kenthir Tetap Kenthir.. JRENG!