Agamaku Tolol (Sesi 1)

Awal mula saya dilahirkan, diwarisi agama oleh orang tua saya, dimisalkan saja agama A, tumbuh dan berjalanlah ajaran dan rutinitas seiring dengan tumbuhnya usia, baik pada masa kanak-kanak yang begitu riang, berbicara spontan, benar bila benar, salah bila salah, tidak tahu bila tidak tahu, tahu bila tahu, dan ajaran agama sebagai kepercayaan menuntun masa kanak-kanak untuk membedabedakan sesuatu yang benar atau salah. Inilah masa terindah karena pemikiran kanak-kanak adalah kenyataan yang dapat dilihat jelas baik dari aksi maupun pemikirannya, boleh dikatakan bahwa anak-anak menunjukan orisinalitas nyata pada saat bergembira, sedih, marah, iri, salah, benar, adil, tidak adil, liar (karena tidak ada pengajaran), jahat (karena sengaja diarahkan) dan seterusnya. Pemikiran dan prilaku masa kanak-kanak, rupanya bagian dari pemikiran kitab suci.
Pertumbuhan pemikiran ekuivalen dengan bertambahnya usia, namun hal ini tidak sepenuhnya memiliki bobot yang sama antara satu dengan yang lain, masing-masing memiliki proses dan cara yang beraneka, namun ada pula yang hanya mengikut pola pemikiran umum / standar umum sehingga perkembangannya mengikuti kebiasaan yang sudah ada. Bacaan-bacaan sebagai pemandu tercecer dimana-mana sebagai konsumsi termudah mencapai sasaran, hal ini membuat pemikiran duduk manis, mengikuti alur yang sudah dituangkan dalam bacaan, tetapi disisi lain bacaan-bacaan menjadi dokumentasi pemikiran yang otentik pada masa diterbitkannya, baik itu merujuk kepada masa sebelumnya, sekarang, maupun prediksi untuk masa depan. Disudut lain, pemikiran digenjot sedemikian rupa, tanpa diimbangi dengan pertumbuhan usia dan realitas kehidupan dimana keadaan tersebut berada sehingga menimbulkan dampak resiko mulai dari terkecil sampai kepada kerusakan besar kepada diri sendiri, sekitar dan seterusnya. Demikian pula dengan alam yang kita pijak saat ini, dikarenakan cara berfikir terhadap hasil tanpa mempertimbangkan resiko di depan sedang menunggu tanpa ampun. Contoh yang sudah terjadi Lumpur Lapindo, pelaku bom bunuh diri, polusi, dan lain-lain.
Kok kenapa istirahat tulisan ini, karena sesuai judul artikel di atas.
SMP
Artikel ini berlaku mundur semenjak diterbitkan di Kompasiana 10 Juni 2011 16:37

Tidak ada komentar:

Posting Komentar