Agama?

Indonesia,Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa
Topik ini selalu saja menarik, selalu saja ada yang tergugah, selalu saja ada yang mengomentari (pro-kontra), selalu saja ada yang mendiskusikan, dan lanjut dan lanjut …
berpedoman kepada teori kepercayaan yang telah dibaca oleh para kompasioner, mencoba untuk dibahas/ditafsirkan sesuai kemauan “penulis-para penulis posting berjudulkan agama” dengan merefer para kitab-kitab kepercayaan, tokoh tokoh penting/berpengaruh dan dikemas sedemikian rupa, buku tafsir dst dan tujuan inti hanya penulis yang tahu. Namun issu kepercayaan ini sangat rentan bila pembaca mencoba menginterpretasikan dalam kerangka keterbatasan, akan terjadi perbedaan pendapat, ektrimnya akan menuai bibit pertikaian, dan sangat mungkin akan membawa ke ranah yang lebih luas yaitu pertikaian antar komunitas.
Indonesia yang pluralis dari budaya, kepercayaan, bahasa (daerah), dan lanjut …, sangat unik, sulit untuk menemukan keberanekaragaman ini di belahan manapun di dunia ini, suatu kelebihan yang signifikan. Namun semua itu kembali kepada Sumber Daya Manusia nya untuk menjadikan issu ini sebagai kekuatan yang maha dasyat dan bermanfaat bagi para penghuninya. Karena disisi lain ada energi negatif tanpa kita sadari telah dikonstruksikan melalui issu kepercayaan ini. Pertanyaan ini perlu menjadi perenungan para pembaca, mungkin ini akan menjadi sesuatu kekuatan yang Powerful yang dapat menembus rintangan terberat sekalipun dinegara ini dalam pencapaian Tujuan Masyarakat Indonesia Seutuhnya sesuai amanat UU
Kenapa percaya akan kepercayaan?
Kenapa kepercayaan perlu suatu pembenaran?
Kenapa pemikiran selalu di equivalensikan dengan kepercayaan?
Kenapa perlu pembenaran kenapa tidak mencoba untuk memblue printkan kepercayaan baru? apakah takut dikatakan pemberontak?
Kenapa dipaksakan alibi untuk mengungkap kepercayaan itu?
Kenapa tokoh-tokoh berpengaruh menjadi referensi, apakah tokoh itu dulu yang pertama dapat dipercaya karena keterbatasan pemikiran yang mempercayai, sedangkan tokoh adalah hasil penciptaan pemilik Bumi dan Langit?
Kenapa tidak pilih Atheis?
Kenapa Kepercayaan di Indonesia selalu dibanding2kan dengan kepercayaan di Negara Lain?
Kenapa para Tokoh2 kepercayaan mewakili jenis kelamin laki2?
dan masih banyak lagi, …
Berbahagialah para pembaca yang masih memiliki kepercayaan yang universal yang menyandarkan keterbatasannya akan kemaha segalanya YME, dan berbahagialah para pembaca yang berusaha mengamalkannya melalui perbuatan yang nyata dan terpuji di lingkungan keberagamannya (menjadikan kepercayaan sebagai pertanggungjawaban moral secara vertikal atas pengamalan nilai2 yang dipercayai bukan untuk dibandingkan). Dan selalu memanjatkan syukur atas kehidupan yang diterimanya hari ini dan berterimakasih untuk kedasyatan yang telah dibangun dengan penuh kasih.
Salam Merah Putih

  • 30 November 2010 03:08:40
    Judul: Agama? (mempertanyakan).
    Alenia pembuka: sila pertama dari Pancasila (syarat pertama untuk jadi orang Indonesia), berkenaan dgn agama.
    Alenia penutup: Salam Merah Putih.
    Mana yang benar?
  • 30 November 2010 03:41:43
    Timakasih untuk kunjungan dan tanggap Bpk. Sam. Kolom ini hanya perenungan (rangkaian kalimat sangat variatif, silahkan memperluas wacara secara pribadi). Perihal yang benar, kembali ke perenungan pribadi dan hanya konsultasi Manusia (hanya individu, bukan kelompok atau bukan sesama) dengan YME dan Salam Merah Putih (benar WNI), salam penutup kolom, disetiap posting kami. Demikian untuk dimaklumi. Silahkan mampir di Coffee House kami, dan mohon maaf apabila kopinya kurang enak, gak bayar kok, kalau enak juga gak bayar.
    Salam Merah Putih.
  • 30 November 2010 04:37:59
    Salam merah putih biasa dilakukan oleh Front Pribumi atau Laskar Merah Putih yang kini ketuanya telah wafat [lihat rilis SP mengenai meninggalnya Eddy Hartawan]. Omong-omong, anda menawarkan tempat ngopi atau tempai mengopi rilis neh? he he he.
  • Ucoxs El Barton As Bart And Simpson
    30 November 2010 04:41:51
    Terimakasih Pak Sutan
    sama seperti saya mampir ke lapak bapak di dunia maya hihihi,
  • 30 November 2010 23:04:56
    Wah kebetulan saya suka ngopi hehe
    Terima kasih undangannya. Salam.
  • 30 November 2010 05:41:49
    Sebagai penambah wacana bisa mampir ke lapak saya:
    http://agama.kompasiana.com/2010/11/27/agama-vs-madilog/
  • 6 December 2010 22:52:09
    Yang fana akan terbatas dalam memahami sang kekal.
    Kita hanya dapat mencoba memahami semaksimal mungkin.
    Pernyataan yang benar adalah: Mengapa memaksa orang lain mengikuti pemahaman kita?
  • 6 December 2010 22:58:14
    Tiada yang benar dan salah dalam pemahaman Kepercayaan dan tidak ada paksaan untuk minum kopi bersama walaupun saudara dan saya berbeda baik itu kelamin, warna hitam atau putih dst, terimakasih untuk kunjungannya. SMP
  • Ivan Kosasih
    6 December 2010 23:10:32
    Setuju.
    Nanti toh kita akan tahu siapa yang benar dan salah.
    Salam damai.
  • 6 December 2010 23:22:46
    kan sudah kubilang sebelumnya, hihihihihi tiada yang salah dan benar, kalau 1-2=3 itu salah brotha, SMP
  • 21 December 2010 06:18:34
    Hehehe…. izin nimbrung ya mas Ucoxs.
    Mungkin bisa dipahami pernyataan mas Ivan di atas. Secara keyakinan memang Kebenaran akhirnya dibuktikan di akhir zaman. Tapi secara penalaran, saya setuju dengan mas Ucoxs. Tidak ada kosa kata salah dan benar. Yang ada mana yang diyakini masing2 umat.
  • 22 December 2010 14:44:52
    Dua2 sepakat hihihi, terimakasih Mas EA
  • 27 January 2011 17:18:59
    Horas Ucoxs,
    PANCASILA ibarat “Pepesan Kosong”, isinya angin lalu yang tak berpangkal dan tanpa ujung. Konsep KETUHANAN Y.M.E. hanya bisa dirumuskan berdasarkan rujukan agama-agama yang terintegrasikan dengan budaya dan sains mutakhir. Itupun dengan petunjuk Sang Guru Sejati. Sudahkah agamawan, budayawan, dan ilmuwan bersama-sama serius membahasnya?
    Tragis, di negeri ini agama terkesan rancu, budaya galau, karya pun kacau. Celakanya semua “sok tahu” dan “ogah diberi tahu”, naifnya saya sendiri begitu.
    BUDDHA yang bijaksana, ketika ditanya tentang TUHAN diam saja, lalu menyuruh orang pejamkan matanya untuk meditasi. CITRA TUHAN pun terbayang sebanyak kepala orang yang hidup di bumi ini, kalau tidak salah TUHAN pun tak berkeberatan? “Genius Loci Nusantara” punya kiat universal, maka tiap upacara sakral menyajikan “TELOR”. Analog dengan ini anak-anak Nasrani disuruh cari “EASTER EGG”, dan seni Butoh Jepang menggelar sendratari “UNETSU”.
    Mauliate godang,
    Ompung Doli.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar